Kopi dan 5 fakta tersembunyi tentangnya

Kopi dan 5 fakta tersembunyi tentangnya
GAIKINDO Mengajak Industri Otomotif Indonesia Bersiap Menuju Masa Depan Melalui Gelaran GIIAS 2
Modifikasi Indonesia Automodified (IAM) Bagi Pecinta Modifikasi
SUV (Sport Utility Vehicle) pilihan mobil tepat di indonesia

“Awali pagimu dengan secangkir kopi!” Seringkali kita mendengar atau membaca kalimat tersebut dari seorang teman atau media sosial yang biasanya disertai dengan gambar secangkir kopi hangat yang terkadang membuat kita — terutama saat bangun tidur — bergumam “Oh, aku butuh ini!”.

Berikut ini adalah 5 fakta kopi yang mungkin belum pernah anda ketahui:

1. Sebelum tahun 1880-an Indonesia adalah pengekspor kopi terbesar dan terbaik di dunia

Ilustrasi perkebunan kopi

Ilustrasi perkebunan kopi. Sumber: Pexels

Dulu awalnya, Indonesia merupakan pengekspor biji kopi terbesar dan terbaik di dunia. Dan tahukah Anda, hal itu terjadi sebelum tahun 1880-an, dimana pada tahun tersebut terjadi wabah hama karat daun yang memusnahkan kopi arabika yang ditanam di bawah ketinggian 1 km di atas permukaan laut, dari Sri Lanka hingga Timor. Brasil dan Kolombia akhirnya mengambil alih peran sebagai eksportir kopi arabika terbesar, sampai kini. Dan pada masa jaya itu, industri kopi di Jawa pernah berpameran di AS untuk memperkenalkan kopi, sehingga publik AS mulai mengenal kopi dan menjuluki minuman itu dengan nama Java.

2. Minum kopi ternyata pernah dilarang di beberapa negara

Ilustrasi gelas kopi.

Ilustrasi gelas kopi. Sumber: Pixabay

Di Italia, pada awalnya pendeta-pendeta melarang umatnya minum kopi dan menyatakan bahwa minuman tersebut dimasukkan sultan-sultan muslim untuk menggantikan anggur. Bukan hanya melarang tetapi juga menghukum orang-orang yang meminumnya. Tahun 1656, Wazir dan Kofri, Kerajaan Usmaniyah, mengeluarkan larangan untuk membuka kedai-kedai kopi. Bukan hanya melarang, tetapi menghukum orang-orang yang minum kopi dengan hukuman cambuk pada pelanggaran pertama.

3. Kopi sangat populer di negara-negara Skandinavia

Ilustrasi orang Skandinavia.

Ilustrasi orang Skandinavia. Sumber: Pixabay.com

Di Swedia, konon Raja Gustaff II pernah menjatuhkan hukuman terhadap dua orang saudara kembar. Yang satu hanya diizinkan meminum kopi dan yang satu lagi diizinkan hanya nyeruput teh. Siapa yang terlebih dahulu mati, maka dialah yang bersalah dalam satu tindak pidana yang dituduhkan terhadap mereka. Ternyata yang mati terlebih dahulu adalah si peminum teh pada usia 83 tahun. Karena itulah, masyarakat Swedia menjadi sangat tergila-gila dengan kopi, bahkan paling fanatik di dunia. Sehingga sampai sekarang negara-negara Skandinavia kini peminum kopi tertinggi per kapita di dunia. Setiap orang bisa menghabiskan hingga 12 kilogram per tahun.

4. Kopi Luwak awalnya adalah minuman rakyat jelata

Kopi luwak sebenarnya sudah ada sejak jaman penjajahan Belanda. Pada saat itu para penjajah Belanda melarang buruh perkebunan kopi untuk mengolah kopi yang berasal langsung dari pohon. Karena larangan itu akhirnya para buruh yang notabene adalah rakyat jelata terpaksa memunguti biji kopi sisa pembuangan luwak yang berceceran di sekitar perkebunan untuk di buat minuman. Setelah pihak Belanda mengetahui bahwa biji kopi dari kotoran luwak memiliki rasa yang lezat barulah mereka mulai mengumpulkan biji kopi luwak tersebut dan bahkan menjualnya sebagai kopi premium.

5. Kafein Memacu Otak Berpikir Positif

Ilustrasi berpikir positif

Ilustrasi berpikir positif. Sumber: Pexels

Sebuah penelitian menunjukkan bahwa kafein dapat membantu orang mengenali kata-kata positif.

Peneliti dari Jerman mengungkapkan dengan mengkonsumsi kafein, setara dengan dua hingga tiga cangkir kopi, seseorang mampu melihat kata-kata positif lebih cepat dalam serangkaian percobaan. Psikolog juga menemukan kafein tidak memiliki efek serupa ketika disodori kata-kata negatif.

Penelitian menunjukkan orang dapat mengenali kata-kata positif, gambar serta suara lebih cepat dibanding segala hal negatif. Para peneliti bereksperimen, ternyata kafein bermanfaat untuk membuat otak merespon lebih cepat dan juga lebih sedikit membuat kesalahan dalam tugas-tugas mental sederhana.

Psikolog eksperimental, Lars Kuchinke beserta timnya dari Universitas Ruhr, Jerman meminta 66 relawan untuk memutuskan secepat mungkin apakah bentukan huruf yang ditampilkan pada komputer adalah kata-kata. Separuh relawan itu diberi tablet dengan kandungan 200 miligram kafein atau setara dengan dua hingga tiga cangkir kopi. Sementara sisanya diberi pil laktosa. Mereka diberikan tablet itu 30 menit sebelum pengujian.

Hasilnya, relawan yang mengonsumsi tablet dengan kandungan kafein tujuh persen lebih akurat dalam mengenali kata-kata positif daripada kata-kata lainnya. Kuchinke berpendapat, mungkin ini karena kafein berfungsi merangsang bagian otak yang terhubung oleh segala hal positif.

COMMENTS

WORDPRESS: 0
DISQUS: 0